Peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) sungguh tidak ada bandingan dengan kota lain di negara mana pun. Roma memang pernah terbakar habis. Tapi, ini semata akibat ambisi penguasa setempat, Kaisar Nero, untuk memfitnah kaum tertentu dan membuat kota baru di masa Romawi. Di Bandung, pada peristiwa BLA, terjadi kondisi sebaliknya.
Rakyat lah yang membakar sendiri kotanya. Inilah yang membedakan karakter peristiwa kepahlawan BLA dengan kota-kota lain di Indonesia. Di mata para veteran dan pelaku BLA yang masih hidup, kredit bukan dijatuhkan kepada jenderal ataupun tokoh pejuang, sekalipun itu seorang Mohammad Toha. Pujian tertinggi justru diberikan kepada rakyat di kala itu!
Bicara BLA, maka hikmahnya adalah daya juang, pengorbanan rakyat yang luar biasa. Mereka rela kehilangan segalanya, rumah, harta bendanya, untuk mempertahankan kemerdekaan yang saat itu telah dicapai, tutur Kol TNI (Purn) Aboeng Koesman (83), veteran perjuangan kemerdekaan RI, mengenang peristiwa BLA ketika ditemui di rumah dinasnya.
Selama wawancara berlangsung, setidaknya ia tiga kali menekankan pengorbanan rakyat ini adalah salah satu esensi terpenting dari BLA. Selain kenyataan bahwa tiap-tiap daerah itu menyimpan cerita perjuangan yang berbeda-beda. Ia bercerita, begitu cintanya rakyat dengan kotanya dan tentu saja kemerdekaan, perintah ultimatum Sekutu agar para pejuang meninggalkan Bandung dalam radius 11 km, tidak ditaati begitu saja.
Padahal, ketika itu, 23 Maret 1946, Perdana Menteri RI Sjahrir memberi perintah agar warga Bandung menaati ultimatum Sekutu demi menghindari jatuhnya korban jiwa yang tidak perlu. Mengingat, di kala itu, wilayah Bandung Utara dipenuhi dengan artileri berat. Bahkan, menurut catatan, dua hari sebelumnya, kawasan Tegallega sempat dihujani mitraliur (peluru) dan bom dari kapal udara tentara Inggris. 17 penduduk sipil pun tewas.
Tetapi, rakyat dan pemerintah lokal tidak mau (pergi), kenangnya. Letkol TNI Omon Abdurachman, dalam Buku Sejarah Peristiwa BLA yang disusun H ME Karmas, di dalam peristiwa itu, menyatakan, tentara resmi taat, tetapi sebagai rakyat harus berjuang terus. Maka, ketika itu, Mayor Rukana selaku Komandan Polisi Tentara mengusulkan Bandung dibumihanguskan dan meledakkkan terowongan Sungai Citarum. Usulan ini pun diamini Komandan Tentara Rakyat Indonesia Divisi III Kol TNI AH Nasution selaku panglima daerah. Keputusan ini sedikit menghilangkan kedongkolan rakyat atas perintah pusat yang menyetujui ultimatum tanpa perlawanan.
Bandung saat itu dinilai menjadi kota yang penting bagi Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Rakyat tidak ikhlas. Daripada dipakai musuh, mendingan dibakar saja, tutur Aboeng. Dalam keadaan hujan gerimis, Minggu, 24 Maret 1946, di sore hari rakyat mulai meninggalkan rumahnya dengan kondisi seadanya. Ada yang menggendong bayi, sebagian menjinjing kopor sambil membawa ayam.
Terbakar
Rumah-rumah yang ditinggalkan pun dibakar, baik oleh sendiri ataupun oleh TRI dan relawan pejuang. Aboeng yang saat itu memimpin satu kompi (400 orang) pasukan dari Batalyon II Resimen 8 Divisi III TRI ikut membakar bangunan-bangunan penting dari Warung Muncang Barat sepanjang Jalan Groote Postweg West (Jalan Sudirman) dan sekitarnya, Cibadak, Astanaanyar, Andir, dan Waringin.
Dari Cimahi sampai Ujungberung semuanya terbakar. Menyala. Suatu laporan di Singapura menyebutkan, dari atas pesawat, yang terlihat hanya asap mengebul. Sungguh hebat sekali. Inilah pengorbanan itu, ucapnya. Tentara Inggris maupun Belanda saat itu tidak berani bertindak, seolah terhipnotis dengan tindakan rakyat yang kesetanan merusak dan membakari sendiri harta bendanya.
Di daerah perbatasan, terlihat pemandangan yang luar biasa. Jalan-jalan dipenuhi sesak pengungsi. Baik di jalan yang menuju Cilampeni, Dayeuhkolot, Banjaran, Ciparay, Cipamokolan, ataupun Ujungberung. Basah kuyup bercampur air keringat yang hangat berbaur dengan latar belakang pemandangan Bandung yang memerah. Rasa lelah, panik kehilangan sanak saudara, dan khawatir harus menuju ke mana menjadi satu. Nasution pun waktu itu sampai tergetar jiwanya, ucapnya.
Hidup dan mati
Veteran yang juga Wakil Ketua III Dewan Pimpinan Daerah Legiun Veteran Jawa Barat Kol TNI (Purn) Mikusumah mengenang masa itu sebagai momen antara hidup dan mati. Saat mengungsi, kekacauan terjadi. Penjarahan di mana-mana. Saat itu umurnya 12 tahun. Menemani ayahnya yang pejuang, seluruh anggota keluarga ikut serta menemani, menggunakan pedati.
Tiga tahun lebih ia pun terpaksa hidup menderita, hidup secara nomaden. Setahun di Majalaya, terus berpindah ke Cisurupan, lalu Ujungberung. Saat kembali ke rumah dulu, yang tersisa hanya tinggal tiang pispot, kenangnya. Nasib Ketua Dewan Pimpinan Cabang Legiun Veteran RI Kota Bandung H Sudirman tidak lebih baik. Rumahnya yang dulu justru telah ditempati kaum Tionghoa setelah bertahun-tahun ditinggali.
BLA mencerminkan disiplin tanpa pamrih. Disiplin melaksanakan perintah dari atasan dan tidak pamrih kehilangan harta benda, bahkan jiwa. Kita mundur (mengungsi) bukan karena kalah, melainkan untuk menyusun kekuatan baru, ucap Sudirman. Di masa pertempuran mengusir Belanda, tidak sedikit pula sumbangsih dari rakyat yang diberikan. Mulai dari mengadakan dapur umum untuk pejuang, menyediakan tempat berteduh, lalu menggali aspal untuk membuat barikade di pinggir rel kereta api.
Inilah yang diceritakan oleh Aboeng maupun Sudirman setelah 63 tahun berlalu. Rambut mereka sudah memutih semua, tulang pun kian ringkih dimakan usia. Meskipun nama mereka mulai dilupakan, seperti halnya petugas parkir dan tetangga yang bingung saat ditanya nama Aboeng, kedua veteran ini berharap satu hal. Agar peristiwa BLA itu tidaklah lantas dilupakan. Sebab, heroisme ini bukan hanya milik elite pejuang, melainkan seluruh rakyat Bandung. (Yulvianus Harjono)
Sumber: Kompas


